Sebenarnyamenurut beberapa sesepuh sekitar kelud adalah hal yang tabu alias pantangan menggunjingkan patung lembu sura saat atau pasca kelud meletus. Menurut legendanya, letusan Gunung Kelud yang keberapa gitu (lupa) lembu sora keluar dari kuburnya. Letusan Pebruari 2014 kemarin ada yang lihat penampakan lembu sura deket gunung gedang persis
Catatansoal letusan Gunung Kelud sudah terlacak ada sejak lebih dari 1.000 tahun. Saat batu dilemparkan, Lembu Sura masih memohon untuk tak ditimbun. Begitu menyadari bahwa permohonannya akan sia-sia, keluarlah "sepatan" sebagaimana menjadi kutipan di atas. (13/2/2014) malam. Gunung ini kembali meletus pada Kamis dengan letusan pertama
GunungKelud meletus tadi malam. Sedikit menambah pengetahuan, inilah kisah legenda di balik Gunung Kelud. Seorang raja memiliki kepala lembu bernama Raja Lembu Suro, dan raja lainnya berkepala kerbau bernama Mahesa Suro. Dalam kondisi seperti itu, Dewi Kilisuci jelas bingung. Ketika keduanya sudah berada di dalam, Dewi Kilisuci meminta
Takdipungkiri setiap Gunung Kelud meletus, masyarakat sekitar kemudian mengaitkannya dengan kutukan Lembu Sura. Saat ini di Kediri terdapat 11 sungai yang mengalir, Bendungan Wonorejo terdapat di Tulunggagung dan Blitar menjadi tanah datar yang dikelilingi sungai dan bendungan.
Batudemi batu dimasukkan ke lubang sumur, menjadi sebentuk bukit menyembul karena ada Lembu Sura di dalamnya. Saat batu dilemparkan, Lembu Sura masih memohon untuk tak ditimbun. Begitu menyadari bahwa permohonannya akan sia-sia, keluarlah "sepatan" sebagaimana menjadi kutipan di atas. Sejak saat itulah legenda Gunung Kelud dan kedahsyatan
Rp1,300,000 | Mustika Lembu Suro adalah mustika yang kami peroleh dari hasil tirakat di gunung kelud, pada malam jumat kliwon kami melakukan tirakat digunung kelud dan melakukan sebuah deteksi guna berjaga jaga dari serangan makhluk gaib, setelah kami melakukan deteksi tiba tiba saja ada serangan power yang kuat dan jaraknya tidak terlalu jauh sehingga keberadaan makhluk tersebut sangat
T6Rl1. "Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung" ~Lembu Sura~ - Kalimat di atas adalah "sepatan" alias kutukan yang diucapkan Lembu Sura, tokoh legenda yang mewarnai sejarah Kabupaten Kediri di Jawa Timur. Juga, sejarah kerajaan beragam versi soal Lembu Sura yang berakhir dengan kutukan dan menjadi sejarah lisan kehadiran Gunung Kelud ini. Meski demikian, semua bertutur tentang cara seorang perempuan cantik menolak lamaran Lembu versi, adalah cerita dengan perempuan cantik Dewi Kilisuci yang adalah anak Jenggolo Manik. Versi lain, ini adalah kisah tentang Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya, penguasa tahta Majapahit. Ada versi-versi lain tetapi inti cerita ini bermula dari kecantikan yang tersohor, mendatangkan para pelamar, sayangnya yang datang tak sesuai harapan. Tak enak menolak, maka cara sulit diterapkan. Tak beda dengan kisah Rorojonggrang dan legenda candi dalam legenda Gunung Kelud, pelamar sang putri ini masih pula bukan manusia. Dia makhluk berkepala lembu. Itulah Lembu menolak lamaran Lembu Sura, dibuatlah syarat pembuatan sumur sangat dalam hanya dalam waktu semalam. Tak dinyana, Lembu Sura ini punya kekuatan dan kemampuan untuk mewujudkan syarat perkembangan tak menggembirakan, sang putri pun menangis. Ayahnya, dalam versi kisah yang mana pun, kemudian memerintahkan para prajurit untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali di sumur persyaratan demi batu dimasukkan ke lubang sumur, menjadi sebentuk bukit menyembul karena ada Lembu Sura di dalamnya. Saat batu dilemparkan, Lembu Sura masih memohon untuk tak ditimbun. Begitu menyadari bahwa permohonannya akan sia-sia, keluarlah "sepatan" sebagaimana menjadi kutipan di atas. Sejak saat itulah legenda Gunung Kelud dan kedahsyatan letusan maupun dampaknya MajapahitTerlepas dari mitos Lembu Sura, tiga wilayah yang disebut dalam kutukannya itu memang kemudian luluh lantak. Para ahli sejarah memperkirakan letusan pada1586 yang menewaskan lebih dari orang adalah akhir dari sejarah kekuasaan Kerajaan catatan sejarah menyebutkan Kerajaan Majapahit diperkirakan runtuh pada kisaran angka tahun 1478. Namun, para sejarawan hari ini pun mengakui masih banyak yang belum terkuak soal sejarah kerajaan itu, seperti misalnya dugaan ada dua Majapahit pada satu kaitannya dengan Gunung Kelud? Tentu saja letusannya. Peta rawan bencana letusan Gunung Kelud, yang dirilis Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral menyusul peningkatan status kegunungapian Gunung Kelud menjadi Awas, Kamis 13/2/2014 malam. Gunung ini kembali meletus pada Kamis dengan letusan pertama terjadi pada pukul WIB. Sebelum letusan pada 2007, setidaknya sejak awal abad 1900-an diketahui bahwa kawah Gunung Kelud memiliki danau. Kecuali letusan pada 2007, letusannya pun diketahui bertipe eksplosif, termasuk letusan pada Kamis 13/2/2014 sebuah wawancara mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral ESDM Surono mengatakan keberadaan danau di kawah ini sama bahayanya dengan lontaran material padat dari letusan yang pada Jumat 14/2/2014 diangkat menjadi Kepala Badan Geologi, mengatakan lontaran air dari danau kawah, bila masih ada, bisa mencapai sekitar 37,5 kilometer. Sudah air panas, bercampur magma, masih dipadukan dengan seratusan juta ton material padat yang karena tak ada catatan sejarahnya, itulah yang terjadi pada letusan 1586. Namun, bukan pula letusan itu saja yang menyebabkan korban jiwa mencapai lebih dari jiwa. Dampak sesudah letusan, tak kurang kematian puluhan ribu orang itu juga disebabkan kelaparan. Dengan muntahnya air danau kawah, lontaran material padat, dan abu vulkanik yang mematikan tanaman, dapat diduga tak ada pasokan makanan yang bisa disediakan dalam jumlah besar untuk jumlah warga pada saat simbol tradisi lisan untuk mitigasi bencanaInilah yang kemudian diduga sebagai penyebab benar-benar paripurnanya sejarah kerajaan Majapahit, menutup beragam konflik politik internal zaman itu, maupun legenda kutukan Lembu Sura. Sebagai gambaran, letusan pada 1919 yang notabene relatif lebih modern dibandingkan kondisi pada 1586, juga menewaskan ribuan orang. Angka yang tercatat adalah orang. Letusan pada 1919 inilah yang mengawali dilanjutkannya upaya pembangunan terowongan di kaki gunung berketinggian meter tersebut berfungsi mengurangi volume air di kawah danau. Catatan tertua tentang upaya mengurangi dampak dari lahar cair, gabungan magma dan air danau yang mendidih, adalah "kelahiran" Sungai Harinjing yang sekarang dikenal sebagai Sungai Sarinjing di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri. Sungai ini merupakan sudetan dari Sungai Sungai Serinjing tercatat dalam prasasti Harinjing di Desa Siman. Dalam prasasti yang dikenal pula sebagai Prasasti Sukabumi itu, tertera angka tahun 921 M. Di situ diceritakan soal pembangunan bendungan dan sungai yang dimulai pertama kali pada 804 M. Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926, setelah letusan pada 1919, masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera. Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik. Volume air di kawah Gunung Kelud susut dan hanya menyisakan genangan pada letusan efusif letusan Kamis 13/2/2014 malam, air danau bisa jadi bukan lagi ancaman. Namun, terbukti pada malam itu bawa Gunung Kelud masih memiliki ciri letusan eksplosif. Lontaran material padat vulkanik pada letusan terbesar pada pukul WIB mencapai ketinggian 17 kilometer, ketika letusan pertama melontarkan material hingga setinggi 3 abu vulkanik letusan Gunung Kelud pada malam itu pun menyebar luas mengikuti arah angin, menyebar luas di Jawa Tengah dan menjangkau Jawa Barat. Bisa jadi gabungan antara pembangunan saluran-saluran air yang telah menghadirkan 11 sungai berhulu di gunung itu, letusan efusif yang menyurutkan air danau kawah, dan persiapan yang lebih baik menjadi faktor yang meminimalkan jumlah barangkali pekerjaan rumah tetap belum habis. Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelud memiliki pola letusan berjeda pendek, antara 9 sampai 25 tahun. Walaupun korban jiwa yang jatuh dalam dua hari ini bukan karena dampak langsung letusan, tetapi fakta sangat pendeknya tenggat waktu antara peningkatan status Awas sampai terjadi letusan pada Kamis malam, tetap merupakan sebuah catatan waktu peningkatan status hingga terjadinya letusan, tak sampai dua jam. Kalaupun kutukan Lembu Sura tak lagi relevan sebagai mitos, barangkali perlu dibaca ada simbol-simbol budaya dalam tradisi lisan sebagai "kode" mitigasi bencana. Percaya atau tidak, hari ini selain 11 sungai ada di Kediri, di Tulungagung pun ada Bendungan Wonorejo, dan Blitar menjadi sebidang tanah datar di kawasan yang dikelilingi danau dan sungai itu. Agak terdengar familiar? Betul, kalimat dalam legenda Lembu beragam sumber/Ekspedisi Cincin Api Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Blitar - Patung Lembu Suro dan Jothosuro ternyata patung bikinan baru. Namun warga sekitar Gunung Gedang percaya jika keberadaan patung itu bakal melindungi wilayah mereka dari erupsi Gunung beberapa literasi yang dihimpun detikcom, patung ini terletak di kawasan Perhutani di wilayah Desa Gadungan Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Tepatnya berjarak sekitar 3 kilometer dari pemukiman penduduk, yang hanya dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau jalan kaki."Saya tidak tahu pasti tahun berapa dibuatnya. Tapi keterangan warga, sekitar tahun 1990-an. Lokasinya di areal gardu pandang," kata Pemerhati sejarah dan situs purbakala kelahiran Blitar, Ferry Riyandika, Sabtu 20/3/2021. Patung Lembu Suro dibangun pada tahun 1993 untuk menyambut Menteri Perhutanan, dalam suatu acara peresmian. Mengutip situs GusJeng Kabupaten Blitar, keberadaan patung itu adalah karena keinginan Pak Las selaku mantri perhutani setempat untuk mempercantik dan sebagai tanda bahwa dulunya area tempat patung terdampak erupsi Gunung Kelud tahun Jothosutro Foto IstimewaPembuatan patung di lakukan oleh seorang pengrajin patung yang berasal dari daerah Ringintelu Kecamatan Kesamben. Pak Las mempercayai pembuatan itu kepada pengrajin tersebut karena reputasinya yang telah lama membuat beberapa patung di daerah patung ini sendiri memakan waktu sekitar 2 bulan, dan selama itu sang pembuat patung menginap dan bermalam di area patung tersebut. Pengerjaan patung tersebut dikerjakan sendirian oleh sang pengrajin. Menurut cerita pak Las, pembuatan patung itu dibuat secara bertahap mulai dari pembentukan kasar kaki baru kemudian di bentuk sedemikian rupa sehingga kelihatan indah seperti itu, dulu di area patung juga terdapat gardu pandang outspot yang terbuat dari kayu setinggi +/- 8 meter. Dari gardu pandang ini kita bisa melihat keadaan gunung dan kawasan Blitar dengan Gunung Kelud meletus, dipercayai karena Lembu Suro murka, sehingga batu-batu serta air yang berada di dalam sumur itu keluar menjadi letusan. Konon, hutan yang berada di kawasan Wisata Lembu Suro ini selalu terbakar ketika Gunung Kelud meletus. Namun tak seluruh bagian hutan terbakar. Kawasan yang terbakar hanyalah kawasan yang berada di utara patung Lembu Suro. Masyarakat sekitar menyebut hutan ini alas mitos masyarakat di daerah ini, hal tersebut dipengaruhi oleh patung Lembu Suro, Patung Lembu Suro dapat memberikan perlindungan di kawasan patung ke selatan. Pemandangan seperti itu juga disaksikan oleh Ferry, pascaerupsi Kelud 2014."Pascaerupsi 2014 wilayah itu justru banyak didatangi wisatawan. Mereka ingin melihat kondisi sekitar Kelud. Karena pada erupsi 2014 itu, Blitar nyaris tak terdampak. Hanya hujan debu tipis di wilayah kota. Di sekitar patung Lembu Suro, seperti membatasi wilayah hutan yang terbakar, sama yang tidak tersentuh abu vulkanik sama sekali," juga 'Kemegahan Garuda Wisnu Kencana di Bali'[GambasVideo 20detik] iwd/iwd
ï»żâ Apa hubungan Gunung Kelud dengan Lembu Suro? Lalu apa maksud dari balas dendam? Sebenarnya ini adalah mitos yang beredar di masyarakat sekitar Gunung Kelud. Namun tidak sedikit yang masih Lembu SuroBicara tentang Lembu Suro, belum lengkap jika belum membahas sejarahnya. Ada bermacam versi dari mitos seputar Lembu Suro, tetapi semuanya memiliki inti cerita yang sama. Ada versi Dyah Ayu Pusparani, putri raja Brawijaya dan Versi Dewi Kilisuci dan Mahesa Suro. Masyarakat sekitar Gunung Kelud mempercayai bahwa letusan Gunung Kelud merupakan hasil balas dendam Lembu Suro yang dikhianati cintanya. Lembu Suro sendiri adalah siluman yang memiliki tubuh seperti manusia dengan wajah lembu. Dalam salah satu legenda, Lembu Suro berhasil melakukan sayembara dari Raja Brawijaya. Konon, Raja Brawijaya mengadakan sayembara untuk mencari pasangan bagi putrinya yang cantik. Saat sayembara digelar, seluruh pemuda yang hendak mempersunting sang putri mengikuti sayembara. Dengan seluruh kekuatan, tidak ada satupun pemuda yang mampu berhasil. Hingga datanglah sang Lembu Suro yang dapat berhasil menaklukkan putri yang cantik enggan menikahi Lembu Suro yang buruk rupa. Ia memikirkan berbagai cara untuk menolak cinta Lembu Suro. Sang putri pun meminta Lembu Suro untuk membuatkan sebuah sumur yang dalam di Puncak Kelud hanya dalam semalam. Demi cintanya kepada sang putri, Lembu Suro pun hampir berhasil melakukannya dengan bantuan makhluk gaib. Sang putri yang tetap tidak ingin menikahi Lembu Suro meminta bantuan ayahnya untuk membunuh Lembu Suro. Keduanya berkhianat terhadap janji sayembara. Raja Brawijaya memerintahkan pasukannya untuk mengubur Lembu Suro hidup-hidup dalam sumur yang dibuatnya. Lembu Suro yang merasa cintanya dikhianati, mengutuk Raja dan seluruh yang hidup di yang membicarakan kemunculan patung Lembu Suro yang secara tiba-tiba. Namun sebenarnya patung ini sudah ada sejak 1995. Patung ini dibangun untuk mempercantik dan menandai area bekas erupsi Gunung Kelud tahun 1990-an. Selain patung Lembu Suro, juga terdapat patung Jotho Suro yang merupakan saudara dari Lembu Suro. Tampak masih utuh, patung Jotho Suro terletak lebih ke bawah dari patung Lembu Suro. Sampai saat ini tidak sedikit masyarakat yang mempercayai mitos tersebut. Salah satunya masyarakat Sugihwaras di lereng Gunung Kelud. Setiap bulan Suro, masyarakat berbondong-bondong ke anak Gunung Kelud dengan membawa larung sesaji. Ada beragam sesaji yang dibawa dalam ritual suci ini, mulai dari nasi, sayuran, lauk pauk, sampai buah-buahan. Semua makanan yang dibawa dikumpulkan di tengah dan masyarakat duduk mengelilingi sembari mendengar pemangku adat membaca patung Lembu Suro dan Jotho Suro yang terletak di Gunung Gedang rangkaian pegunungan sekitar Gunung kelud, terdapat banyak potensi wisata yang menjanjikan di sekitar kawasan ini. Hutan yang indah di sekitar Lembu Suro bisa jadi wisata yang berpotensi besar meningkatkan pendapatan daerah. Kawasan Lembu Suro sangat cocok untuk dijadikan sebuah wisata adventure. Memanfaaatkan kebutuhan akan rekreasi yang meningkat, dengan pengembangan berkelanjutan dan pembangunan berbagai sarana yang mendukung sebuah wisata petualangan dapat menjadi acuan sebagai langkah selanjutnya bagi Pemerintah Kabupaten Blitar. Tanpa merusak alam, pembangunan fasilitas outbond dapat dilakukan di sekitar kawasan hutan seperti panjat tebing, flying fox, dan berbagai sarana pendukung ke depannya, diharapkan Pemkab. Blitar dapat mengembangkan berbagai potensi wisata di kawasan Lembu Suro sebagai wisata adventure yang menarik guna memikat wisatawan baik lokal maupun mancanegara. TOPIK LAINNYAciri ciri keturunan brawijaya v, jodoh satrio piningit, Ciri keturunan Aji Saka, Pangeran sangga buana, asal usul mahesa suro, Ciri-ciri fisik keturunan Banten, ciri-ciri keturunan jaka tingkir, Ciri-ciri KETURUNAN Tubagus, ciri keturunan batoro katong, silsilah keturunan dewi lanjar
BerandakismisPatung Lembu sura dan kisah mistis seputar meletusnya gunung kelud Gambar diatas merupakan personifikasi lembu sura dalam legenda gunung kelud. Menurut beberapa informasi Patung dari semen diatas dibuat sekitĂ r tahun 80an oleh mahasiswa yang sedang KKN dan lokasi patung ada di gandusari, Blitar. Selepas gunung kelud meletus 3 minggu silam obrolan-obrolan hangat mengenai penampakan lembu sura dan kejadian-kejadian aneh seakan tak habis menjadi bahan-bahan obrolan di warung-warung kopi terutama sekitaran gunung kelud sendiri. Beberapa obrolan yang sedang hangat dibicarakan sekitar warga kelud yakni Mengenai patung lembu sura diatas sebenarnya sudah ada sejak lama tahun 1980an namun isu yang berkembang ditemukan satu lagi secara tiba-tiba pasca kelud meletus di sekitaran aliran lahar. Sebenarnya menurut beberapa sesepuh sekitar kelud adalah hal yang tabu alias pantangan menggunjingkan patung lembu sura saat atau pasca kelud meletus. Menurut legendanya, letusan Gunung Kelud yang keberapa gitu lupa lembu sora keluar dari kuburnya. Letusan Pebruari 2014 kemarin ada yang lihat penampakan lembu sura deket gunung gedang persis sebelahnya gunung kelud. Terutama yang sering lihat penampakan ini adalah warga Sepawon. Penampakan lembu sura di Sepawon dan Nglegok inilah yang membuat daerah tersebut tidak separah letusan sebelumnya yang katanya material dan abu vulkanik ke tiup lembu sura ke arah kediri. Ada yang melihat juga awannya kemarin berbentuk kepala lembu dengan dua tanduknya dari utara berbelok ke barat menuju ngayukjokarto. Karena dinilai Jogja turut membantu kediri untuk merebutâ gunung kelud dari blitar. Ketika kelud meletus dilarang senter-senter atau bermain senter mengarahkan ke gunung kelud. Gak tahu alasannya tetapi kang sugi punya pengalaman tidak mengenakkan waktu kecil. âNgertine mung ra oleh senter2 pas gunung kelud meletus, soale pernah dulu diilokno temenan karo mbah kakung trus dengan tiba2 petir nyambar batang pohon kelapa pas diakarnya yg ada disebelah tempat sembunyi.â Banyak yang bilang sebelum meletus kisaran jam 9-an, ada sekelebat sepasang sinar yang bertarung dari timur menuju barat dan ketimur lagi. Kejadian ini persis ketika kelud mau meletus tahun 2007 silam. Demikian mantemans cerita sekilas obrolan hangat mengenai sisi-sisi lain gunung kelud. Mungkin mantemans yang asli sekitaran gunung kelud bisa dishare dimari. Maturnuwun Tak semua harus dijelaskan dan diterima oleh logika tapi itu bisa saja terjadi dan nyata *disarikan dari obrolan hangat di grup WA jatimotoblog Diposting dari WordPress seti0ne-droid baca juga Comments comments blitargunung keludkedirimisterimitospatung Seorang Bapak dengan 3 anak. Suka jalan-jalan dan corat-coret tulisan perjalanan. Hobi berkendara menunggang roda dua. Tak paham kuliner namun tidak ada makanan yang dicela alias doyan semua...hehehe. Maturnuwun. follow twitter setia1heri Artikel Sejenis
KEDIRI, - Letusan Gunung Kelud selalu dikaitkan dengan banyak mitos dan Ramalan babad tanah Jawa kuno. Salah satunya kisah Lembu Suro. Apa kaitannya Lembu Suro dengan Ramalan Gunung Kelud meletus di tahun 2022? Legenda babad tanah jawa kuno punya kisah menarik. Kawasan gunung Kelud dari zaman dahulu sudah di Ramalkan akan terjadi bencana dahsyat, karena tuntutan balas dendam sosok sakti mandraguna Lembu Suro. Baca Juga Diramal akan Meletus Tahun 2022, Sumpah Lembu Suro Bikin Masyarakat Deg-Degan Mitos Lembu Suro adalah legenda manusia dengan kepala lembu yang dikhianati cintanya oleh seorang putri cantik Dewi Kilisuci. Dewi Kilisuci adalah putri Jenggolo Manik dengan kecantikan setara bidadari. Karena kecantikan dan budi pekertinya, ia dilamar oleh dua orang raja yang bukan berasal dari bangsa manusia. Raja lembu bernama Lembu Suro dan Raja kerbau bernama Mahesa Suro. Baca Juga Sekilas Pandang Gunung Kelud, Termasuk Stratovolcano Cincin Api Pasifik Dewi Kilisuci membuat sayembara untuk membuat sumur di atas Gunung Kelud yang harus selesai dalam satu malam. Dengan kesaktiannya, 2 raja jin ini berhasil menuruti permintaan Dewi Kilisuci dengan mudah. Tetapi, Dewi Kilisuci yang sejak awal enggan dipersunting oleh Lembu Sura dan Mahesa Sura sudah mengatur siasat jahat. Singkat cerita, saat kedua raja masuk ke dalam sumur untuk menggali lebih dalam, para prajurit Dewi Kilisuci menimbun kedua raja tersebut dengan tanah hingga meregang nyawa. Baca Juga Ramalan Gunung Kelud Meletus Tahun 2022, Lihat Sejarah Erupsi 45 Hari Tanpa Henti Bikin Ngeri Sebelum tewas, Lembu Suro sempat mengucapkan sumpah serapah yang melegenda, berbunyi Yoh.. Kediri, mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping. Yoiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung dadi kedung. Yang artinya Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapat balasanku yang amat besar. Kediri akan jadi sungai, Blitar jadi daratan, dan Tulungagung jadi danau.
penampakan lembu suro saat gunung kelud meletus